Perhitungan Neptu Dana dan 5 Unsur Nasib

Dalam tradisi Bali, terutama dalam perhitungan neptu dan primbon, kehidupan manusia sering dianalogikan melalui lima unsur nasib, yaitu Sri, Gedong, Peta/Pete, Lara, dan Pati. Kelima unsur ini bukan sekadar label atau angka, tetapi merupakan simbol filosofis yang merefleksikan dinamika hidup manusia, mulai dari kemakmuran, tantangan, penderitaan, hingga akhir kehidupan. 

1. Sri — Kemakmuran dan Kebahagiaan 
Sri merupakan unsur yang paling diidamkan, karena melambangkan kemakmuran, kesejahteraan, dan keberuntungan. Nama unsur ini diambil dari Dewi Sri, dewi padi dan kesuburan dalam tradisi Bali, yang diyakini membawa berkah lahir dan batin. Orang yang sisa neptunya jatuh pada Sri biasanya menikmati hidup yang harmonis, kesehatan yang baik, rezeki cukup, dan hubungan sosial yang positif. Dalam rumah tangga, pasangan yang mendapat unsur ini akan cenderung memiliki kehidupan rumah tangga harmonis dan penuh kasih sayang, sedangkan dalam pekerjaan atau usaha, Sri menandakan kemudahan dan keberhasilan. Filosofinya mengajarkan bahwa syukur, kerja keras, dan hubungan yang harmonis akan mendatangkan berkah yang berkelanjutan.

2. Gedong — Kestabilan dan Cukup
Unsur kedua, Gedong, melambangkan kehidupan yang stabil dan cukup. Orang dengan sisa Gedong tidak kekurangan kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan. Kehidupan mereka berjalan normal dan aman, meski tidak sehebat keberuntungan yang dibawa Sri. Filosofi Gedong mengingatkan kita untuk bersyukur atas apa yang dimiliki, menjaga kestabilan, dan tidak terlalu ambisius. Dalam konteks rumah tangga, Gedong berarti pasangan hidup yang cukup harmonis, di mana kebutuhan materi dan emosional relatif terpenuhi, namun tetap membutuhkan usaha untuk menjaga keseimbangan agar tidak tergelincir ke kesulitan.

3. Peta/Pete — Dinamika dan Konflik
Peta atau Pete adalah unsur yang melambangkan dinamika hidup yang tidak selalu mulus. Orang yang berada dalam unsur ini biasanya menghadapi banyak perbedaan pendapat, konflik, atau tantangan dalam hubungan sosial dan rumah tangga. Meskipun tidak sepenuhnya negatif, unsur ini menunjukkan bahwa kehidupan tidak selalu harmonis. Filosofi Peta mengajarkan kesabaran, komunikasi yang bijak, dan pengelolaan emosi untuk menghadapi masalah. Kehidupan yang penuh dinamika ini juga bisa menjadi pembelajaran dan kesempatan untuk berkembang, asalkan setiap konflik dikelola dengan bijaksana.

4. Lara — Penderitaan dan Ujian
Lara berarti penderitaan, kesulitan, dan cobaan hidup. Orang dengan sisa neptu ini cenderung menghadapi masa-masa sulit, baik dari segi ekonomi, kesehatan, maupun hubungan sosial. Dalam pandangan tradisi Bali, Lara bukan sekadar nasib buruk, tetapi juga ujian spiritual dan proses pembersihan jiwa. Penderitaan yang dialami membantu manusia untuk mendewasakan diri, membangun ketahanan batin, dan meningkatkan kesabaran. Filosofinya mengajarkan bahwa penderitaan adalah bagian dari siklus hidup, dan jika dijalani dengan bijak, akan memberikan pelajaran dan kebijaksanaan yang berharga.

5. Pati — Akhir dan Transformasi
Pati adalah unsur yang paling negatif, melambangkan kematian, bencana, atau akhir suatu siklus kehidupan. Orang yang sisa neptunya jatuh pada Pati dianggap rawan menghadapi musibah, kehilangan, atau perubahan drastis. Filosofi Pati mengingatkan manusia akan ketidakabadian hidup dan keterbatasan eksistensi. Dalam tradisi Bali, unsur ini juga menyiratkan pentingnya persiapan, introspeksi, dan pengelolaan risiko, serta kesadaran bahwa setiap akhir adalah bagian dari siklus hidup dan reinkarnasi. Meskipun tampak negatif, Pati mengajarkan manusia untuk menyadari nilai waktu, hidup bijak, dan menghargai setiap momen kehidupan.

Kesatuan Filosofi Lima Unsur

Kelima unsur ini (Sri, Gedong, Peta/Pete, Lara, Pati) bukan berdiri sendiri, melainkan saling terkait sebagai refleksi perjalanan hidup manusia:

  • Sri dan Gedong menunjukkan keberuntungan dan kestabilan,
  • Peta/Pete menunjukkan tantangan dan dinamika,
  • Lara mengajarkan penderitaan sebagai proses pembelajaran,
  • Pati mengingatkan akan ketidakabadian dan perlunya persiapan spiritual.

Dalam praktik tradisi Bali, sisa neptu ini digunakan untuk menentukan hari baik-buruk, pemilihan jodoh, atau nasib rumah tangga, namun pada tingkat filosofis, kelima unsur ini adalah cermin kehidupan manusia, mengajarkan kita untuk mensyukuri yang baik, belajar dari konflik, menerima ujian, dan menyadari keterbatasan hidup.